Sedikit bercerita tentang pengalaman menjadi anak korban perceraian.

Sebagai orang yang pernah menjadi korban perceraian, rasanya ditinggal oleh ayah dan bunda sangat tidak menyenangkan. Meski tentu saja, ada wali yang bertanggung jawab. Tinggal jauh dari ayah dan bunda bukanlah hal yang diinginkan, namun kondisi tidak memungkinkan untuk bisa tinggal Bersama dan juga sebagai seorang anak kecil pada saat itu hanya bisa menerima apa yang orang dewasa tentukan.

Bagaimana perasaan seorang anak Ketika ditinggalkan ayah dan bunda?

Jadi dulu, orang tuaku berpisah. Ibuku berangkat ke luar negeri sebagai TKI di Arab Saudi. Ayahku mencari uang di Indonesia. Terkadang harus pergi jauh juga. namun, banyak masalah yang terjadi akibat hubungan jarak jauh ini. Akhirnya mereka memutuskan untuk bercerai.

Aku, pada saat itu sebagai anak, tidak merasa sedih karena masih sangat kecil dan belum mengerti arti perpisahan. Aku pikir, ibuku tetap ibuku ayahku tetap ayahku meski mereka berpisah. Aku tak pernah membenci ayahku meski banyak selentingan buruk tentangnya. Namun, aku membencinya Ketika aku mendengar sendiri dia menjelek-jelekkan ibu pada orang lain.

Dulu, aku merasa seperti anak hilang, anak kehilangan induk, tak punya pembela. Ketika melihat orang lain yang orang tuanya komplit, aku merasa mereka hidup penuh dengan kestabilan. Berbeda denganku yang tak punya pembela. Jadi aku harus bisa membela diriku sendiri.

Kalau ditanya apakah perceraian itu meninggalkan rasa traumatic? Mungkin tidak. Hanya saja, Ketika melihat seorang anak yang orang tuanya bercerai, kemudian anak ini tinggal Bersama nenek sedang ayah dan ibunya menikah lagi, aku bener-bener mengerti bagaimana perasaan itu. Aku mengerti rasanya tidak punya siapa-siapa yang memiliki kedekatan secara batin dengan kita. Dan sebagai anak, tidak bisa protes atau menolak. Menerima saja apa adanya.

Untungnya, perpisahan yang terjadi antara ibu dan bapakku tidak lama. Mungkin hanya sampai ibuku Kembali ke tanah air saja sekitar 3-4 tahunan. Setelah Kembali ke tanah air mereka memutuskan untuk Kembali Bersama. Namun tentu saja, masalah selalu ada.

Sehingga Ketika ada kejadian mereka bertengkar dan Kembali memutuskan untuk berpisah, aku menyikapinya dengan santai dan biasa saja. Aku juga mencoba untuk tidak peduli saat itu. (saat itu aku sedang kuliah). Hanya mencoba untuk lebih bijak menyikapi karena itu urusan orang tua. Aku hanya berusaha memantau perkembangannya saja. Pada saat itu, aku juga tidak melarang ibuku untuk menikah lagi. Jika memang ada kesempatan, aku mempersilahkan dia untuk menikah. Kenapa? Ya, menurutku dia berhak Bahagia. Dia tak harus selalu mengurusiku, aku sudah dewasa. Dulu dia bekerja ke luar negeri demi bisa menyekolahkan kami. Kemiskinan, membuat kami sama-sama berjuang menurut versi kami masing-masing.

Apa sebenarnya yang bisa membuat seorang anak benar-benar Bahagia?

Menurut versi dan pengalamanku, seorang anak juga butuh dimengerti dan dihargai. Anak tak harus selalu dituruti keinginannya. Aku pun akhirnya jadi seorang pejuang dan pribadi yang tak lenyeh-lenyeh karena orang tua tak membelikan apa yang aku inginkan. Meski ada uang, kebutuhan yang lebih penting ada. Dan aku tahu juga melihat bagaimana perjuangan mereka dalam mencari rejeki.

Aku juga sejujurnya tidak tahu, bagaimana cara membuat seorang anak mengerti keadaan kita. Tapi, aku yakin kedekatan dengan anak secara batin, akan membuat mereka mengerti dengan sendirinya bagaimana keadaan kita. Dan empati juga simpati itu akan muncul dengan sendirinya, karena mereka melihat. Kuncinya adalah komunikasi dengan anak harus terjalin dengan baik agar anak bisa mengerti.

Aku bersyukur, karena tuhan mempersatukan Kembali orang tuaku meski dengan kerumitan yang ada. Dan aku berharap mereka terus Bersama dan saling mengerti satu sama lain. Karena mereka itu sebearnya pribadi yang saling melengkapi.

Saran

Memang, perceraian tidak bisa dielakkan Ketika ada masalah yang berat dan tak ada titik temu. Meski akhirnya harus bercerai, ingatlah anak butuh kasih saying kedua orang tuanya. Jangan membencinya karena dia addalah darah dagingmu, meski ada andil dari pasangan yang mungkin kini kau benci. Tapi jangan benci anakmu, jangan kau jauhi, anakmu adalah anugerah dari tuhan yang diberikan kepadamu. Anakmu, juga tanggung jawab yang diberikan tuhan padamu.

Jangan pula menajuhkannya dengan ayah atau ibunya. Karena anak berhak mendapatkan kasih sayang dari keduanya. Kasihan dia, dia juga pasti ingin memiliki keluarga yang harmonis dengan kehadiran ayah dan ibu yang mencintainya. Dia sudah berkorban dengan tidak menuntut kalian Bersama.

Jangan kau jadikan anakmu membenci ayah atau bundanya. Dia punya pikiran dan pemahamannya sendiri. Jangan kau tambahi justru harus kau tengahi. Jangan biarkan dia menjadi pembenci. Jadikan dia anak yang soleh yang hormat kepada kedua orang tua. Dan jadilah orang tua yang baik meski mungkin tidak bisa Bersama. Karena Selama dia masih menjadi anakmu, Pendidikan, materi, dan kasih sayang masih menjadi tanggung jawabmu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *