Jadi bun, aku ingin bercerita tentang definis kebahagiaan seseorang itu benar-benar engga sama. Memang, kalau tolak ukurnya kebahagiaan itu menikah dengan laki-laki tampan, kaya, cerdas, tubuh atletis, baik hati, rajin shalat, rajin bekerja dan setia, terus punya anak-anak yang cantik dan ganteng dan cerdas. Pasti semuanya mengangguk setuju itu definisi bahagia. Tapi, maksudku, definisi bahagia ini adalah bahagia yang bisa dirasakan orang bersangkutan namun bisa jadi tak dapat dipahami orang lain.
Jadi, sebut saja namanya Bunga. Bunga ini menikah dengan seorang lelaki buta. Sebelum menikah dengannya, hidup Bunga terbilang irit. Namun setelah menikah, dia menjual harta benda bahkan tanah sepetak yang ia punya.
Otomatis orang-orang menganggap bahwa suami Bunga ini adalah benalu bagi Bunga. Sudah mah buta, bikin bunga merugi dengan membuatnya jadi tak memiliki apa-apa. Semua yang mengenal Bunga, menasehati bunga, bahkan ada juga yang menyuruh bunga untuk bercerai saja. Terlebih melihat si Suaminya yang buta ini sering sekali masih menafkahi mantan istrinya. Sebenarnya bukan mantan istrinya sih, tapi karena beliau ini punya anak akhirnya dia masih bertanggung jawab pada anak tersebut.
Sebenarnya pekerjaan suami Bunga ini, sebut saja Namanya Jaja. Jaja bekerja sebagai pendakwah. Ilmu agamnya memang luhur karena sebelumnya dia mondok pasantren. Bisa mengobati juga. Namun, namanya pendakwah panggilan, kadang banyak yang mengundang kadang tidak. Kalau ada uang, biasanya Bunga segera membayar hutang-hutang bekas kosong tak ada pemasukan. Dulu Bungan sebelum menikah dengan Jaja, hidup menjanda dan bekerja sebagai buruh pemanggul genteng di pabrik genteng. Setelah menikah Bunga tak lagi bekerja.
Banyak orang ayng menghujat sikap Bunga dan keputusannnya menikah lagi dengan Jaja yang buta ini. Namun dibalik itu semua, Bunga bahagia. Ada hal yang tidak orang lain ketahui yang membuatnya puas dengan keadaan yang ada karena dia tak bisa meminta lebih namun dia mensyukuri yang ada.
Dulu, Bunga menikah by accident dengan seorang lelaki dari kampung sebelah. Akhirnya mereka dinikahkan secara paksa. Namun, si laki-laki ini tak mencintai Bunga, hanya nafsu sesaat saja. Akhirnya mereka bercerai. Bunga waktu itu memiliki satu orang anak perempuan yang ia besarkan dengan susah payah. Ketika usianya mencapai satu tahun salah seorang anggota keluarga Bunga menawarkan diri untuk merawat dan membesarkan anak Bunga. Bunga bersedia dan memberikan anaknya untuk dibesarkan agar bisa sekolah dan memiliki kehidupan yang layak.
Waktu berganti tahun berlalu, anaknya sering mengunjungi bunga. Saudara Bunga alhamdulillah tidak pernah menutupi keadaan bahwa Bunga lah ibu kandungnya. Setiap libur sekolah anak bunga akan tinggal bersama ibunya. Maklum, anak bunga diangkat anak oleh saudara jauh. Beda kabupaten.
Anak Bunga kemudian ke luar negeri, menikah, dan memiliki anak. Dan itu membuat Bunga bahagia. Meski tak merawatnya, Anaknya tetap mencintainya sepenuh hati. Meski tak tinggal bersama,
Bertahun-tahun Bunga menjanda, hidup sendirian bukanlah hal yang mudah. Aku yakin,itulah yang membuat Bunga mantap menikah dengan segala keadaan yang ada. Menerima dengan sepenuh hati dan ikhlas apapun yang terjadi. Terlebih, suaminya yang sekarang, menerima keadaannya dengan sepenuh hati. Mendampinginya, menemani sakitnya, bahkan menemani dia sampai ajal menjemputnya. Mungkin, rasa dicintai itulah yang membuat Bunga bertahan dan bahagia. Jika dibandingkan dengan pernikahannya yang dulu, suaminya yang baru lebih baik. Entah dari sisi agama atau dari sisi manapun.
Ketika Bunga Meninggal, tak ada yang tahu, ternyata diam-diam Bunga menyimpan kalun seberat 5 gram dan uang sebesar 2 juta rupiah untuk anak satu-satunya itu, di bawah ubin lantai agar ada harta yang tak dijual suaminya yang bisa tersisa untuk anaknya. Inilah yang membuatku terharu, dibalik hujatan semua orang tentang dia yang banyak merelakan harta untuk suaminya. Ternyata dia juga tak pernah lupa pada anaknya.