Liat teman SMP kehidupannya sekarang baik, penghasilannya 2 digit, pasangannya dokter atau berkedudukan tinggi, kerjaannya jalan-jalan ke luar negeri. Atau temen SMA yang kuliahnya saja sampai ke Paris, belajar sampai tinggal di sana. Atau teman lainnya, yang suaminya kerja di BUMN. Keliling aja Indonesia, hidup no maden dan sudah anak 2. Kelihatannya, kehidupan orang lain tuh bahagia banget, ya. Sedangkan berkaca sama diri sendiri, kok kita begini-gini aja?

Terlalu memperhatikan hidup orang lain emang bikin kita insecure. Kita harusnya jangan mengcompare kehidupan kita dan kehidupan orang lain. Bisa jadi, entah kita atau orang yang kita anggap hebat itu sedang memiliki masalah dengan taraf yang berbeda, bisa lebih berat, lebih ringan, atau bahkan justru lebih complex.

Karena masalah tak mungkin diumbar, jadi tentu saja yang terlihat pasti hal-hal yang baik saja.

Dan bisa jadi kondisi yang sedang kita alami saat ini adalah kondisi yang diidamkan orang lain.

Saya sendiri sejujurnya merasakan hal yang sama. Jadi, saya melihat teman-teman saya memiliki pengalaman tinggal di luar kota. Sedang saya sendiri tak pernah pergu jauh ke luar kota. Ketika yang lain kuliah jauh, saya harus puas dengan sekolah di universitas di kabupaten sendiri.

Ketika reuni, teman-teman SMA sudah banyak yang jadi PNS, ada juga yang jadi dokter dan perawat. Keren. Bikin insecure, bener.

Tapi, ternyata, ada saudara-saudara yang mengidamkan hidup seperti saya. Dulu saya pernah nulis buku dan terbit di penerbit mayor. Kemudian, saudara saya mengatakan bahwa dia ingin menyekolahkan anaknya SMA agar bisa pintar seperti saya. Maklum saat itu banyaj yang harus ouas fengan pebdidikan SMP karena masalah biaya. Sekolah masih belum gratis seperti sekarang kala itu.

Begitupun ketika beliau memutuskan untuk menguliahkan cucunya. Dia bilang bahwa dia ingin agar cucunya kelak bisa seperti saya, bisa mudah cari pekerjaan. Dan kerja di posisi yang bagus di perusahaan.

Saya memang alhamdulillah, berhenti mengajar kemudian kerja di perusahaan textil. Karena tak betah, saya kemudian langsung dapat kerjaan baru di perusahaan furniture skala international melalui info teman. Berhenti di sana, saya kemudian resign dan mendapat kerjaan di perusahaan sepatu ternama. Posisi yang saya tempati di perusahaan adalah sebagai PPIC dan sekarang sebagai purchasing.

Dan kenyataannya perjalanan saya sampai mendapat pekerjaan dan menjalani pekerjaan tersebut itu tak seindah yang orang lain pikirkan.

Pernah seorang teman guru menyemogakan anaknya agar bisa seperti saya. Wah, jujur saya kaget mendengar hal itu. Kok bisa ya mereka bermimpi kecil sekali. Begitu pikir saya. Saya menganggap pencapaian saya ini kecil, tak ada apa-apanya jika dibanding teman-teman yang bahkan bekerja di perusahaan dengan gaji 2 digit.

Jadi, dari sana saya menyimpulkan bahwa, ketika kita berandai-andai menjadi seperti orang lain yang lebih hebat, merasa insecure karenanya, dan membandingkan diri sendiri dengan pencapaian orang lain. Di luar sana, ada orang yang bahkan mendambakan ingin berada di posisi kita.

Kata temanku, kita gak boleh merasa iri dengan kehidupan orang lain. Dan bahagialah dengan apa yang kita miliki saat ini. Everyone has their own journey.

Insecure itu wajar. Tapi jangan sampai kita merasa gak pede melakukan apapun. Menganggap diri bodoh, lebih bodoh dari orang lain. Dan akhirnya mengganggu aktifitas harian. Atau parahnya Insecure sampai mau bundir. Jangan ya, jangan begini.

Setiap orang itu unik, setiap orang punya rejeki masing-masing di bidang masing-masing. Setiap orang engga harus punya pencapaian yang sama. Karena kewajiban kita di dunia ini adalah ibadah, maka mari niatkan segala aktifitas kita untuk beribadah. Kalau ternyata apa yang kita usahakan, kebaikan yang kita lakukan, membawa kita pada kesuksesan, kekayaan, jabatan tinggi, maka anggap itu reward atas usaha yang kita lakukan.

Mari kita menjadi sukses dan menjadi orang yang lebih baik dari diri kita sebelumnya. Salam. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *