Wanita itu menjahit sebuah kain panjang yang biasa digunakan setelah melahirkan. “Untuk siapa itu?” Tanya bapaknya.

Ani, sebut saja nama wanita itu, kemudian menoleh dan menjawab. “Punya Mira, Pak.”

“Tetangga kamu itu? Yang rumahnya di sana?” Tanya bapaknya sekali lagi meyakinkan.

“Iya, pak.” Jawab Ani sambil terus memainkan mesin jahitnya.

Mendengar jawaban itu sang bapak menggeleng. Dalam hatinya terbersit sakit. Luka yang menganga entah kapan sembuhnya. “Sungguh baik sekali hatimu, Nak,” ucap sang bapak.

“Bahkan orang yang pernah menyakitimu, kau tolong lagi dia.” Air mata bapaknya menetes.

Ani hanya diam. Dia tak mau banyak pikiran. Tak mau membayangkan masa lalu dan getirnya yang sempat begitu pahit dikecap.

Mira adalah mantan selingkuhan suaminya. Setelah ketahuan berselingkuh keduanya putus. Mira yang masih lajang itu kemudian memutuskan untuk menikah dengan laki-laki lain, setelah ternyata cintanya bukan menjadi prioritas bagi laki-laki yang sudah beristri itu. Dan istri dari laki-laki yang dicintainya adalah Ani, tetangganya sendiri.

Rumah mereka tak jauh. Hanya terhalang 4 rumah saja. Namun dengan teganya, dia menggoda suami tetangga sendiri. Terlebih Ani saat itu baru saja melahirkan putri bungsu nya.

Ani pun masih ingat bagaimana dia bahkan tak bisa menyusui karena rasa panas membara dalam jiwanya ternyata menyebabkan asinya juga hangat. Sampai-sampai si bayi tak bisa menyusu. Dan di susukan pada orang lain.

Namun tahun-tahun sudah berlalu. Kini Mira melahirkan anak pertamanya. Tak ada yang tukang jahit yang bisa dia mintai tolong kecuali Ani. Ani dengan lapang dada menolong Mira. Menutup mata akan masa lalunya dengan ikhlas dan sabar.

****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *