Anak perempuan itu mengendap-endap di kamar neneknya. Ia melirik ke kanan dan ke kiri takut-takut ada yang memergokinnya. Namun sapu di tangan sudah siap, sebagai alibi bahwa dia sedang bersih-bersih kamar. Tangannya mulai jahil dan dia membuka lemari neneknya. Dia tahu bahwa di bawah baju-baju itu ada uang yang sengaja disimpan neneknya.
Dua lembar uang kertas berwarna biru tersimpan di sana. Dan salah satunya kemudian diambil oleh perempuan kecil ini dengan gugup. Ia tahu yang dia lakukannys adalah salah. Tapi dia merasa memiliki hak untuk membelanjakan uang tersebut karena ibunya yang berada di luar negeri mengirim uang kepada neneknya untuk biaya hidup mereka.
Anak perempuan ini tak berpikir panjang bahwa uang tersebut untuk kebutuhan sehari-hari. Ia hanya merasa ingin sekali satu kali saja dia bisa jajan seperti teman-teman nya yang lain. Jajanan yang belum pernah bisa ia beli.
Setiap hari anak perempuan ini hanya diberi jajan 200 rupiah untuk Sekolah Dasar dan uang tersebut hanya cukup untuk membeli satu jenis makanan saja yang harganya Rp200 juga atau dua item yang harganya Rp100.
Orang tuanya sudah bercerai dan dia tinggal bersama neneknya yang sudah tua dan adik ibunya yang teramat galak. Tak ada kasih sayang sepanjang ingatan masa kecil anak perempuan ini. Yang ia tahu hanyalah setiap pagi ia harus mengepel seluruh rumah dan kemudian setiap sore sebelum berangkat ke sekolah madrasah dia harus berdagang untuk menambah uang jajan. Dan ya, cukup lelah untuk melakukan hal itu terus-menerus. Sampai akhirnya Ia memutuskan untuk mencuri uang neneknya. Karena uang jajan yang selama ini ia dapat ternyata tak cukup untuk menyamai teman-temannya yang lain, yang bisa jajan jajanan mahal seperti Ciki berhadiah yang harganya Rp1.000.
Sore itu gaduh, neneknya mulai kehilangan uang dan semua anak di rumah itu ditanya satu persatu, termasuk anak perempuan ini. Tentu saja dia tidak mengaku, namun usut punya usut orang-orang membicarakan anak perempuan ini yang bisa jajan banyak sekali. Tidak seperti biasanya. Kemudian neneknya bertanya,
“Kamu jajan ke warung Haji Umi banyak sekali, kamu juga jajan ke warung Bu Martha. Kamu dapat uang dari mana?”
Anak perempuan kecil ini berpikir keras, dia menggigit bibirnya. Tak sangka ternyata pemilik warung akan menggosipkannya di belakang, karena bisa jajan banyak. Bukankah seharusnya ibu warung senang karena dagangannya di beli?
“””” nenek kemudian bertanya lagi apa ini pemberian dari ayahmu” nenek kemudian bertanya lagi apa ini pemberian dari ayahmu”” nenek kemudian bertanya lagi apa ini pemberian dari ayahmu” nenek kemudian bertanya lagi apa ini pemberian dari ayahmu
Anak kecil ini merasa seperti ada angin segar, kemudian dia mengangguk mengiyakan bahwa uang yang didapatnya adalah pemberian dari ayahnya.
Kasus kehilangan uang itu pun selesai entah karena memang nenek tidak ingin memperpanjang masalah atau karena sebenarnya nenek sudah tahu siapa yang sebenarnya mencuri uangnya itu.
***
Bunda kita boleh mengajarkan kepada anak untuk hemat. Tapi, sesekali berikan mereka apa yang mereka inginkan. Jangan terlalu sering juga, karena itu akan memanjakan mereka dan membuat mereka menganggap remeh sesuatu. Sehingga daya juangnya kurang. Apa yang mereka inginkan, bisa jadi tidak mereka butuhkan. Ajarkan anak kita berjuang, ajarkan anak kita hemat, ajarkan anak kita untuk berbelanja sesuai kebutuhan, dan sesekali berikan mereka reward atau hari di mana mereka bisa berbelanja satu barang yang benar-benar mereka inginkan dan butuhkan.