Pernah engga sih sebuah pemicu kecil dalam keseharian mempengaruhi mood dan membuat hari kita menjadi seakan-akan buruk padahal tak ada yang terjadi yang harus dikhawatirkan?
Atau pernah engga sih merasakan rasa cemas berlebihan akan sesuatu yang tidak ada dan tidak pernah terjadi?
Pernah engga sih merasa sedih sepanjnag hari padahal tak ada yang perlu ditangisi?
Atau pernah engga sih perasaan buruk terasa mengungungkungmu berhari-hari tapi kamu harus terlihat baik-baik saja?
Untuk yang pernah dan sedang merasakan, mari kita ngeteh dulu.
Beberapa hari belakangan aku seperti mencari hal yang tak ada, mencari ketengangan yang seolah tak ada ujungnya. Atau mencari diriku sendiri diantara patung-patung replika yang aku ciptakan sendiri. Seolah mencari, aku yang asli yang mana ya. Padahal aku sendiri ya itu, yang sedang mencari itu, dan terus menerus merasa gamang berjalan. Seperti menapaki jalanan hampa yang entah akan melemparku ke mana.
Saya engga tahu ini adalah level of pain yang mana, atau sudah separah apa. Tapi aku yakin setiap orang memiliki deritanya masing-masing. Mungkin lebih berat dan bisa juga lebih ringan. Dan inilah yang aku rasa beberapa minggu ini.
Aku seolah ingin menutup mataku, menganggap sama semuanya atau menganggap tak ada apa-apa. Dan berjalan dengan tenang tanpa beban. Hanya saja, tak bisa. Banyak hal-hal yang terkadang harus aku perhatikan, harus aku pikirkan, harus aku basa basikan. Rasanya aku muak. Dan aku harus baik-baik saja.
Aku mencoba mencari tahu, apa yang sebenarnya aku butuhkan dan aku inginkan. Kemudian membandingkannya dengan apa yang aku lakukan.
aku ingin menjadi ini, tapi aku malah menjalani hal lain. Mulai mencari tahu, menulisnya, membuat planningnya. Namun aku malah tak bergerak sama sekali. Aku menjadi merasa bodoh. Aku merasa butuh istirahat itulah mengapa aku diam saja. Tapi aku merasa berslaah dan merasa terlalu banyak diam.
Bodohnya aku.
Banyak hal yang ingin aku capai. Tapi bagaimana bisa aku mencapainya sambil duduk atau diam saja. Itulah yang membuatku kecewa sama diriku sendiri. Kenapa aku tak bisa menahan keinginanku untuk bersantai…
Mungkin asal muasalnya dari sini. Dari kebiasaan yang sulit aku rubah ini yang akhirnya aku kecewa sama diriku sendiri. Aku masih belum berhasil menang melawan diriku yang buruk. Kemudian ovt yang muncul terus menerus membuatku kalut. Padahal aku harus berjuang melawan atau meminimalisirkan ovt tersebut dengan berolahraga dan meminimalisir kelelahan yang akan terjadi kemudian yaitu dengan disiplin dan mengerjakan pekerjaan rumah lebih awal agar tidak memicu stress jika kerjaan over load (karena numpuk2 kerjaan)
Mengerjakan sedikit demi sedikit pekerjaan rumah bisa membantu relief ovt dan stress. Aku yakin ketika semuanya beres, setelahnya aku akan merasa bahagia, senang, plong.
Paling sulit memang berjuang melawan tabiat buruk diri sendiri maka semangat ya. Tulisan ini aku tulis ketika sedang gelisah, ovt, dan kecewa sama diri sendiri. Maafkan kalau amburadul dan tak terstruktur atau bisa jadi tak nyambung. Karena catatan ini aku peruntukan untuk diriku sendiri dan sebagai salah satu caraku untuk menurunkan stress dan ovt yang sedang aku hadapi.
saya tau tak ada yang sempurna di dunia ini. Tapi saya ingin mencoba menjadi lebih baik walau banyak sekali kesalahan dan kegagalan yang saya alami dalam menjalani dan mengusahakannya.
saya bukan ibu yang baik tapi saya sedang berusaha menuju ke sana. Saya bukan istri yang baik tapi saya sedang mencoba menjadi lebih baik lgi. Saya bukan pribadi yang baik karena masih melakukan banyak kesalahan. Tapi saya tahu bagaimana harus bangkit dan memperbaiki diri. Saya bukan anak yang baik tapi saya selalu berusaha menjadi anak yang membanggakan dan bisa diandalkan.
Semangat diri. Terima kasih sudah berjuang.
