Pernah engga sih merasa sangat introvert tapi actual hasil test kamu itu extrovert? Atau pernah engga sih merasa bahwa kamu juga sama aja kek introvert yang engga suka keramaian dan lelah juga harus bicara ke banyak orang, atau kepikiran setelah ngobrol panjang lebar.
Aku sering banget mengalami fase itu. Fase aku asik bicara abis itu worry takut ada yang salah. Atau ngerasa capek banget ngomong terus kelelahan sampe rumah.
Emang bener, bagi extrovert ngobrol itu bikin happy. Bikin semangat. Tapi setelahnya malah engga semangat lagi gara-gara takut kebanyakan omong atau ada salah2 bahasa atau omongan.
Aku pikir sih, itu wajar ya karena di setiap diri si extrovert punya bagian introvertnya juga. Misalnya dari 100% itu sisi extrovertnya 60% sisi introvertnya 40%.
Aku sendiri sisi extrovertku 70% sisi introvertku 30% yang artinya ya aku extrovert.
Cuma sering banget aku merasa kaku untuk berbaur di lingkungan sosial, tak suka keramaian, suka kedamaian, dan pastinya suka rebahan.. loh?! Maaf becanda. Intinya sih ada beberapa hal dari si introvert yang aku punya juga.
Jadi menurutku, orang extrovert itu tidak 100% extrovertnya pasti memiliki sisi introvert. Makanya kemudian, jika sisi extrovert dan introvertnya hampir seimbang itu bisa disebut sebagai si ambivert.
Belakangan, aku malah belajar untuk mengurangi banyak bicaraku. Karena khawatir ada orang yang kurang suka atau merasa terganggu dengan diriku yang banyak ngomong. Aku juga merasa terlalu banyak bicara atau becandaan yang engga penting itu memang engga bagus juga. Kebanyakan basa basi. Capek juga ya kan. Jadi aku pengen bicara seperlunya saja dan lebih banyak mendengarkan. Mendengarkan bikin kita banyak ilmu dan tau banyak hal. Termasuk gosip sekitar kan wkwkwkwk. Engga ding. Maaf maaf abaikan.
Yaudahlah yah, segitu aja untuk cerita introvert extrovert kali ini. Walau misalnya tidak ada ilmunya, semoga tulisan ini menghibur dan enak dibaca. Wassalam.