“Bu, temanku rumahnya punya 3 AC. 1 bulan bayar listriknya lebih 1 juta. “
“Wah, kaya betul kawanmu, nak! “
“Iya bu, yang lebih hebat lagi. Dia tetap bersahaja bu walaupun kaya. Kalau orang kaya dari lahir mah beda ya bu.”
“Ya lan hidupnya dah biasa enak dari dulu ya menurut dia jadinya biasa aja. “
“ada lagi bu, kawanku lainnya punya bisnis skincare. Dah jadi bos bu, masih ngajar untuk anak-anak. Dia bilang, sayang ijazah. “
ibu hanya manggut-manggut.
“yang lainnya, ada yang dah jadi PNS, jadi dokter, bahkan ada yang sekarang tinggalnya di Paris, bu. Kuliah di sana sampe S3 mungkin dari lulus SMA. “
“Wah, hebat ya! “
“Iya bu, alhamdulillah. Aku ikut seneng liat temanku pada sukses. Tapi kapan ya aku bisa sukses seperti mereka? Rasanya kok hidup begini-begini aja. “
ibunya tersenyum, “Insyaallah kamu juga pasti bisa sukses, banyak rejekinya.”
Matanya berkaca-kaca. “Aamiin, makasih bu. “
Dia memasuki kamarnya. Terdiam, kemudian mengambil sebuah buku dan pena.
‘Ya Allah, mampukan aku untuk memberangkatkan umroh kedua orang tuaku.’
Tulisnya dalam sebuah buku.