Tak pernah terbayangkan oleh Raninka bisa dicintai oleh seorang laki-laki yang bahkan bedanya 12 tahun lebih muda darinya. Di usianya yang ke 34 dengan status jandanya beranak 1.

Awalnya pemuda itu mendekati dengan mengirim pesan text. Entah dari mana dia mendapatkan nomer Raninka. Yang membuat raninka makin risih adalah ketika dia mulai sering datang berkunjung ke rumah orang tuanya dengan membawa makanan yang berbeda-beda setiap harinya.

Sampai suatu hari pemuda itu menyatakan perasannya pada Raninka, namun Raninka menolaknya. Tak berhenti disitu, berharap mendapat jawaban yang berbeda pemuda itu melamar Raninka pada orang tuanya. Namun orang tua Raninka kembali memasrahkan keputusan kepada Raninka.

Sebenarnya alasan Raninka dan orang tuanya menolak tidak lain dan tidak bukan karena perbedaan usia yang cukup jauh.

“Aku malu bu kalau nanti jalan dengannya. Bagaimana kalau ada yang bilang aku tante-tante gatal? Gak mikir umur, atau gak tau malu. Aku gak mau, bu,” Kilah Raninka.

orang tuanya pun setuju dengan perkataan Raninka ini. Namun pilihan yang dipilih pemuda itu cukup extrim akhirnya. Mendapatkan 2 kali penolakan membuatnya malah mencoba bunuh diri.

“Daripada aku engga sama kamu. Lebih baik aku mati aja. “

Ketika mendengar perkataan ini Raninka tak peduli. Sebelumnya Raninka pernah mengalami pengancaman yang sama dari orang yang berbeda namun tak ada yang terjadi. Mana mungkin dia berani, Batin Raninka.

Ternyata prasangka Ranin salah. Pemuda itu benar-benar melakukannya. Awalanya hanya menggores urat nadi namun ketahuan. Kemudian mencoba gantung diri dan keburu ada yang menemukan. Hampir saja nyawa pemuda itu hilang. Untung saja pekerja di rumahnya menemukannya. Yang terakhir adalah meminum racun obat nyamuk yang berujung dilarikan ke rumah sakit.

Ibu dari pemuda ini tak tahan lagi melihat kondisi anaknya yang menyedihkan. Meski sebenarnya dia juga kurang setuju dengan Ranin namun karena melihat anaknya begitu frustasi dan putus asa akhirnya ia menemui Ranin dan orang tuanya.

“Tolonglah Ranin, temui anak saya. Tolong terima perasaannya untuk beberapa waktu. Kalau kamu masih tak suka juga, pelan-pelan tinggalkan dia. Tolong temui dia, nasehatin dia. Mungkin kalau kamu dia bakal denger. ” Ibu pemuda itu memohon sambil sesenggukan.

Sebenarnya ada rasa enggan di hati Ranin. Bagaimana tidak, ia bahkan tak punya perasaan apapun pada pemuda itu.

“Tolonglag Ranin. Anak saya masih muda. Gejolak jiwa mudanya masih besar. Masih labil. Egonya masih besar. Tolonglah Ranin, saya memohon sama kamu demi anak saya. Terimalah dia. “

“Tapi tidak sampai menikah ya mba Haji. Hanya menerima sementara perasaan dia. Saya yakin dia hanya terobsesi sementara saja.”

“Terserah kamu Ranin. Yang penting anak saya berhenti mencoba bunuh diri. Saya engga kuat melihatnya Ranin. Tolonglag temui anak saya sekarang. “

akhirnya Ranin mengalah. Dia berangkat ke rumah sakit. Dengan alasan menjenguk.

Di sana dia melihat pemuda itu. Pemuda yang kemarin mengirim banyak pesan untuknya.

Sebenrnya tak ada masalah dengan fisik pemuda tersebut. Wajahnya tak terlalu jelek. Tinggi badannya juga jangkung. Lebih Jangkung dari tinggi badan Ranin.

Ranin duduk di samping pemuda itu. Pemuda Itu memalingkan wajahnya. Ranin hanya terdiam saja. Pemuda itu pun hanya terdiam.

Semua orang sengaja meninggalkan mereka berdua saja agar keduanya bisa bicara tanpa terprovokasi orang lain.

“kamu ke sini terpaksa, kan? “

Ranin hanya terdiam.

“Udah sana pulang. Engga usah peduli. Ngapain kamu datang ke sini? “

“Kamu ngapain kayak gitu? Engga menghargai nyawa kamu sendiri. Gimana kamu bisa menghargai orang lain? “

“engga usah peduli. “

“Ngapain sih bunuh diri. Mending cari cewek”

Pemuda Itu bangkit dari tidurnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ranin. Tangannya meraih kepala Ranin sehingga hidung mereka bertemu.

“Aku maunya sama kamu, ngerti engga? “

“gila!”

“Iya aku emang udah gila. “

Lalu pemuda itu kemudian memeluk Ranin.

“Kenapa kamu engga coba jadian dulu sama aku. Kamu nilai dan timbang sendiri. Kalau aku emang gak layak, yaudah engga apa-apa aku terima. Kasih aku kesempatan. “

Ranin menggigit bibirnya. Dia benar-benar ilfil. Tapi mau bagaimana lagi. Di sisi lain dia takut pemuda ini mencoba bunuh diri lagi.

“Tapi janji jangan coba bunuh diri lagi. Mau apapun yang terjadi nantinya. “

“iya.” Pemuda itu memeluk Ranin erat.

“Meskipun nantinya kita putus. “

“Itu engga akan terjadi. Kita gak akan putus. Aku jamin. ” Rei memeluk Ranin erat.

Hati Ranin bergidik. Tiba-tiba saja perasaan ragu menyeruak. Apakah ini keputusan yang tepat atau bukan?

Pemuda itu akhirnya keluar dari rumah sakit setelah dirawat 3 hari.

sayang aku udah keluar dari RS.

pesan teks itu meluncur ke ponsel Ranin. Ranin yang sedang bekerja kemudian bergidik setelah membacanya. Astaga, batinnya.

Duuuhhh kenapa aku mesti pacaran sama anak kecil sih. Batin Ranin. Perbedaan usia 12 tahun sekarang usia pemuda itu sekitar 22 tahun.

udah gitu dia bilang make acara yakin engga akan putus lagi. Pengen nangis Tuhan. Engga banget ini. Batin Ranin berteriak.

Malam hari sekitar jam 7. Pemuda itu datang ke rumah Ranin. Seperti biasa, tangannya tak pernah kosong. Dia bawa buah banyak sekali. Ranin membatin, lah yang sakit kan dia ngapa dia yang bawa buah kemari?

“Emang kamu udah sehat udah main ke sini? “

“Iya.” Jawab pemuda itu malu-malu. Ranin yakin kalau pemuda itu belum pernah pacaran seumur hidupnya.

Dalam hati Ranin masih berkata-kata, ngedumel bahkan menangis. Ya Ampun hari gini, di usia segini gue diapelin. Duh ya ampun. Itulah kenapa Ranin tak banyak bicara dan mrmasang muka masam.

“Besok mau dibawain apa? “

“Emang besok mau ke sini lagi? ” Spontan Ranin menjawab.

“Iya, emang kamu ada urusan besok? “

anjir, dia nyebut gue kamu. Kakak kek, mbak kek.

“iya, ada. “

“Mau ke mana? “

“Makan sama temen kantor. “

“Pulang jam berapa? “

“Jam 9 paling. “

“Mau Aku anterin? “

“Ngga usah. “

“Aku mau anterin. “

“Kan aku bawa motor. “

“Yaudah ga usah bawa motor. “

“Engga usah, aku bawa motor sendiri. “

“Besok aku jemput. “

“Engga usah. “

“Masuk kerja jam berapa. “

“Aku bilang ngga usah! duh bocil ya! ” Ranin keceplosan.

akhirnya pandangan mereka bertemu setelah Ranin bicara tanpa menatap pemuda itu.

“Kamu tuh tanggung jawab aku sekarang. ” Tatapan pemuda itu lembut.

Ranin malah bergidik. Ya tuhan tanggung jawab macam apa. Aku setua ini, dia sebocil itu. Toloooong, Ranin membatin.

“Gak usah. Beneran. “

“Kamu malu ya? “

Jleb! Pertanyaan ini tepat sasaran.

“Malu kenapa? “

“Malu karena punya pacar aku. “

“Aku ga mau ngerepotin. “

“Gak ngerepotin. “

“Iya engga usah. ” Ranin tetep kekeuh.

“Ini.” Pemuda itu menyodorkan jeruk yang sudah dia kupas.

Dari tadi ngupas jeruk aku kira buat dia makan bawaannya sendiri. Ternyata ngupasin buat aku toh, batin Ranin.

“Kamu gimana sekarang keadaannya? “

“Udah mendingan. “

Ranin menerima jeruk yang disodorkan pemuda itu.

“Udah malem. Sana pulang, baru sembuh juga. “

“Iya.”

Padahal jam baru menunjukkan pukul 7.30malam.

Pemuda ini bernama Reickal. Lulus SMA dia melanjutkan usaha orang tuanya. Ayahnya sudah meninggal. Punya adik masih kecil 3. Ibunya masih muda usia 40an. Hanya beda 5 atau 6 tahun dengan Ranin. Ibunya menikah muda dan langsung punya anak. Makanya Ranin agak gimana dengan dia. Tapi Ranin engga punya pilihan. Rencananya Ranin akan bikin si pemuda ini ilfil dan ninggalin dia.

Reickal punya peternakan kambing, sawahnya beberapa hektar. Jadi dia fokus untuk bertani dan beternak. Kulitnya sebenarnya putih hanya saja gosong terkena sinar matahari. Dia tidak lanjut kuliah. 3 tahun Belakangan dia juga buka bengkel motor mobil. Orang tuanya sudah menyuruhnya melanjutkan pendidikan. Tapi Rei tak mau, pusing katanya.

Perawakan Reickal memang tak bisa dibilang bocil juga. Badannya lebih tinggi dari Ranin. Lebih besar. Sedangkan body ranin kecil, tinggi semampai. Meski sudah punya anak, Ranin tipikal orang yang susah gemuk.

Namun tentu saja wajah Ranin terlihat lebih dewasa. Kalau dari kejauhan mungkin tak terlalu terlihat karena kulit Ranin putih, rambut pendek berwarna cokelat kemerahan. Gaya anak muda usia dua puluhan. Dan selalu rapi.

***

Paginya sekitar jam 6 teng. Reickal sudah ada di rumah Ranin. Menunggu ranin untuk berangkat kerja.

“Tuh, pacar bocil kamu dah nyampe. “

hah? Ranin menengok ke arah jendela. Hadeuuh si bocil dibilangin engga usah. Maksa. Ranin ngedumel dalam hati. Semenjak punya status pacar, Ranin sering membatin sendiri.

“Kan aku udah bilang engga usah. ” Cerocos ranin tak ramah.

Reickal cuma senyam senyum.

Mau tak mau akhirnya Ranin naik ke mobil Reickal. Padahal tempat kerjanya dekat.

“Jangan ngambek terus. ” Reickal memulai pembicaraan karena sedari tadi Ranin diam saja sambil manyun.

Ngambek? Apa itu ngambek? Udah gak pantes buat aku ngambek. Batin Ranin.

“Jam berapa acaranya? ” Tanya Rei lagi.

“Engga usah dianterin. Nanti aku ikut temen. “

“Pulangnya aja? Dijemput dimana? “

“Nanti shareloc. “

Sesampainya depan tempat Ranin kerja, Rei menarik lengan baju Ranin sebelum dia membuka pintu.

“Hah? “

Rei nyodorin tangannya. “Harus dibiasain. “

Anjir! Gue mesti cium tangan bocil? Keluh Ranin. Ranin ngefreeze.

Rei merangkul leher Ranin dan mencium keningnya. Dia juga meraih tangan Ranin dan mengarahkan tangannya ke bibir ranin. “Mesti dibiasin. Mesti belajar. “

Ranin malah shock. Tidak bisa berkata-kata. Kocak! batinnya.

Anjir lah. Emang mesti belajar kenapa ini anak maksdnya belajar apa? Udah gitu baru juga 2 hari udah main nyosor aja. Ranin membatin, menggeleng kepala tak habis pikir.

***

Rei senyum-senyum sendiri. Dari semenjak di rumah sakit, ia tak menyangka kalau akhirnya dia bisa jadian dengan wanita idamannya. Dari dulu dia sudah menyukai Ranin. Hanya saja, dulu Ranin masih punya suami. Jadi, ketika Ranin bercerai, Rei merasa itu kesempatan emas untuknya. Namun ketika dia ditolak, dia merasa harapannya runtuh.

Awalnya dia merasa dia bisa bertahan. Tapi rasa sedih yang dia rasa jadi malah tak terbendung. Ia tak mampu membayangkan jika Ranin malah menikah lagi dengan laki-laki lain. Karena putus asa dan diabaikan akhirnya dia melakukan jalan pintas. Awalnya dia hanya ingin menarik perhatian. Namun karena Ranin bahkan tak peduli akhirnya ia nekat.

Awalnya Rei tak nafsu makan. Lama kelamaan susah tidur. Apalagi ibunya tak merestui. Dia bahkan diancam tak akan diberi warisan. Semua aset yang dia punya sekarang tidak akan diberikan. Malah akan diusir dari rumah. Akhirnya dia stress sendiri dan memutuskan untuk bundir.

Senjata makan tuan. Ketika melihat anaknya mencoba bunuh diri berkali-kali, akhirnya ibunya luluh dan memutuskan untuk mengemis cinta dari Ranin. Berharap Ranin bisa memberikan kesempatan.

Sebelumnya ibunya bahkan ke orang pintar untuk minta air. Takutnya anaknya diguna-guna. Bukannya diguna-guna atau dipelet, justru Ranin ogah-ogahan nerima anaknya. Malah ibunya kini justru minta air ke orang pinta untuk Ranin agar luluh hatinya.

Rei melihat sosok Ranin sangat sempurna. Wanita karir, cantik, pintar, berpendidikan. Awalnya terkesan sombong dan angkuh namun sopan dan perhatian.

Rei paham kalau Ranin tak mencintainya. Tapi dengan Ranin memberikan kesempatan, itu berarti dia bisa berusaha jadi yang terbaik untuk Ranin. Persetan masalah usia dan restu. Kini dia malah sudah mendapatkan restu. Tinggal bagaimana caranya agar Ranin hanya fokus ke dia saja.

Pertama kali Rei ketemu Ranin ketika di Bengkel. Dia merasa Ranin sosok yang pendiam, sopan, dan cantik. Wajahnya terbayang terus di pikiran Rei.

Dan itulah yang membuat Rei Jatuh cinta pada pandangan pertama.

***

“Kamu pulang bagaimana? “

“Aku nanti ada yang jemput kalian pulang aja duluan. “

“widiiih, siapa nih yang jemput? “

“Adik, anaknya paman. “

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *