Sedikit cerita, sebelumnya saya bekerja di kantor sebagai purchasing. Saya mengelola beberapa dokumen terutama dokumen invoice faktur pajak po dan juga beberapa dokumen penting lainnya. Saya juga sering melakukan komunikasi bukan hanya dengan internal perusahaan tapi juga dengan vendor atau supplier. Dalam prosesnya, tentu saja ada banyak sekali kerumitan seperti barang tidak datang, produksi sudah membutuhkan barang tersebut namun barang masih inden, pembayaran yang tidak juga dilakukan oleh finance kepada supplier, pengajuan pembelian barang yang ditolak oleh bos, komunikasi yang kurang lancar dengan user juga menjadi salah satu hambatan dalam pekerjaan ini.
apakah karena hal ini akhirnya aku memutuskan untuk resign dan menjadi freelancer? Tentu saja bukan. Saya termasuk orang yang meyakini bahwa di setiap bidang pekerjaan pasti ada tantangannya tersendiri. Yang membuat saya akhirnya memutuskan menjadi seorang freelancer virtual asisten adalah karena masalah waktu. Sebagai seorang ibu rumah tangga saya ingin memiliki lebih banyak waktu di rumah dan lebih santai apalagi di usia yang semakin hari semakin bertambah.
Saya ingin pekerjaan yang lebih rileks dan tidak terlalu tertekan. Memang pekerjaan di manapun pasti ada tuntutannya, tapi jika pekerjaan yang dilakukan lebih fleksibel itu bisa membuat saya lebih bebas bergerak. Misalnya ketika pagi saya ingin mengantar anak sekolah masak mau beres rumah karena kami tidak menggunakan art sehingga segala sesuatunya kami kerjakan sendiri.
ketika menjadi seorang virtual asisten saya merasa lebih tenang dalam bekerja karena fleksibilitas waktu sangat dibutuhkan di kondisi saya yang sekarang.
menjadi virtual asisten bukan hanya menjadi solusi untuk penghematan ongkos tapi juga agar bisa mewujudkan mimpi lainnya dan lebih banyak waktu dengan keluarga. Tentu saja menjadi virtual asisten, membuat saya merasa lebih hidup karena saya bisa melakukan hobi saya seperti membaca buku dan menulis novel.
namun tentu saja sebelum resign saya sudah mempersiapkan semuanya misalnya dana darurat, mengikuti kursus sebagai virtual asisten di SGBVA, dan juga membuat planning schedule selama masa pembelajaran dan after resign.
Apakah menjadi ketua asisten menyenangkan? Sampai saat ini saya merasa nyaman dan merasa senang menjadi seorang virtual asisten karena bisa bekerja dari rumah. Ketika saya ingin jalan-jalan saya tidak perlu mengajukan cuti kepada atasan atau siapapun, Saya hanya perlu menyelesaikan tugas yang saya terima kemudian saya bisa pergi ke manapun tanpa harus berpikir jatah cuti.
Saya sangat bersyukur memiliki suami yang mensupport saya untuk bisa menikmati pekerjaan baru saya sebagai virtual asisten dan mendukung saya dalam proses pembelajaran maupun dalam prosesnya sampai akhirnya saya memiliki klien.
Menjadi seorang virtual asisten memang tidak mudah tapi tidak susah juga. Ketika kita belajar dari ahlinya, kita akan memahami apa yang harus kita lakukan, tools yang bisa membantu kita, dan tips apa saja yang bisa kita lakukan untuk mempermudah pekerjaan.